Jumat, 28 Oktober 2016

Pengaruh Budaya pada Perekonomian Suku Baduy



Bagi kelangsungan hidup manusia, kebudayaan merupakan sesuatu yang penting. Kebudayaan, yang merupakan seperangkat gagasan, carahidup, dan berbagai kebiasaan, dikatakan tidak dapat melaksanakan tugasnya apabila tidak berhasil menjaga kelangsungan hidup manusia. Kebudayaan bukan sesatu yang diwariskan secara biologis, melainkan hasil belajar, maka kelangsungan hidup manusia memerlukan proses pewarisan budaya dari satu generasi ke generasi lainnya. Kebudayaan merupakan warisan leluhur yang harus dilestarikan agar tidak tergerus oleh zaman yang semakin modern. Di Indonesia terdiri dari banyak Pulau dan memiliki berbagai jenis kebudayaan dari Sabang sampai Merauke. Namun saat ini sudah banyak kebudayaan yang sudah tidak digunakan lagi oleh masyarakat terutama oleh generasi muda yang seharusnya tetap menjunjung tinggi nilai budaya daerahnya.
Ditengah moderenisasi yang semakin meningkat, masih ada daerah-daerah yang masih menjunjung tinggi nilai kebudayaannya. Salah satunya yaitu suku Baduy Banten, sekelompok masyarakat yang dikenal dengan orang “BADUY” tentu sudah tak asing lagi untuk didengar. Suku yang mendiami daerah Banten Selatan, Jawa Barat, Indonesia. Masyarakat Baduy  terkenal akan keteguhannya terhadap adat dari para leluhur mereka, yang apabila dilanggar mereka akan mendapat hukuman yang sesuai dengan perbuatan yang mereka langgar. Mereka tidak boleh mempergunakan peralatan atau sarana dari luar. Mereka hidup tanpa menggunakan listrik, uang, dan mereka tidak mengenal sekolahan. Salah satu contoh sarana yang mereka buat tanpa bantuan dari peralatan luar adalah Jembatan Bambu. Jembatan ini dibuat tanpa menggunakan paku, untuk mengikat batang bambu mereka menggunakan ijuk, dan untuk menopang pondasi jembatan digunakan pohon-pohon besar yang tumbuh di tepi sungai. Kamar mandi yang digunakan pun masih sangat tradisional yaitu di sungai, dari mandi sampai mencuci pakaian pun dilakukan di sungai.


 


Kelompok Suku Baduy

Masyarakat Kanekes secara umum terbagi menjadi tiga kelompok yaitu tangtu (Baduy Dalam), panamping (Baduy Luar), dan dangka (Permana, 2001).
Kelompok tangtu adalah kelompok yang dikenal sebagai Kanekes Dalam (Baduy Dalam), yang paling ketat mengikuti adat, yaitu warga yang tinggal di tiga kampung: Cibeo, Cikertawana, dan Cikeusik. Suku Baduy Dalam tinggal di pedalaman hutan dan masih terisolir dan belum masuk kebudayaan luar. Kebudayaan mereka masih asli, dan sulit sekali masyarakat lainnya yang ingin masuk apalagi tinggal bersama suku Baduy Dalam. Selain itu tidak bisa sembarangan orang masuk ke wilayah suku Baduy Dalam. Untuk mencapai wilayah Baduy dalam harus diperlukan penunjuk jalan dan ijin dari pimpinan adatnya serta harus mematuhi ketentuan yang sangat berat seperti di larang membawa kamera. Jarak yang harus ditempuh untuk menuju Baduy Dalam pun cukup jauh dan hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki menelusuri hutan dan sungai. Orang Baduy Dalam terkenal teguh dalam tradisinya. Mereka selalu berpakaian warna putih dengan kain ikat kepala serta golok. Semua perlengkapan ini mereka buat sendiri dengan tangan. Pakaian mereka tidak berkerah dan berkancing, mereka juga tidak beralas kaki. Mereka pergi kemana-mana hanya berjalan kaki tanpa alas dan tidak pernah membawa uang, jadi mereka tidak pernah menggunakan kendaraan. Masyarakat luar sulit sekali masuk wilayah Baduy dalam apa lagi mengambil fotonya. Ada semacam ketentuan tidak tertulis bahwa ras keturunan Mongoloid, Negroid dan Kaukasoid tidak boleh masuk ke wilayah Baduy Dalam. Jika semua ketentuan adat ini di langgar maka akan kena getahnya yang disebut kuwalat atau pamali adalah suku Baduy sendiri. Kepercayaan mereka adalah Sunda Wiwitan, mereka tidak mengenal sekolah, huruf yang mereka kenal adalah Aksara Hanacara dan bahasanya Sunda.
Suku Baduy Luar , yang mengunjungi masih bisa menggunakan alat komunikasi seperti Handphone. Kanekes Luar merupakan orang-orang yang telah keluar dari adat dan wilayah Kanekes Dalam. Ada beberapa hal yang menyebabkan dikeluarkannya warga Kanekes Dalam ke Kanekes Luar. Baduy luar atau biasanya mereka menyebutnya Urang Panamping. Cirinya, selalu berpakaian hitam dengan ikat kepala warna hitam bermotif biru. Sedangkan orang Baduy dalam memiliki pakaian khas berwarna putih dengan celana hitam serta ikat kepala berwarna putih. Sedangkan wanita baik di Baduy dalam maupun luar memiliki ciri pakaian yang hampir sama berupa kebaya 'karempong'.
Apabila Kanekes Dalam dan Kanekes Luar tinggal di wilayah Kanekes, maka "Kanekes Dangka" tinggal di luar wilayah Kanekes, dan pada saat ini tinggal 2 kampung yang tersisa, yaitu Padawaras (Cibengkung) dan Sirahdayeuh (Cihandam). Kampung Dangka tersebut berfungsi sebagai semacam buffer zone atas pengaruh dari luar (Permana, 2001).

Mata Pencaharian Suku Baduy

Mata pencaharian utama masyarakat Kanekes adalah bertani padi huma dan juga mendapatkan penghasilan tambahan dari menjual buah-buahan yang mereka dapatkan di hutan seperti durian dan asam keranji, serta madu hutan. Hasil pertanian mereka berupa beras bisanya mereka simpan di lumbung padinya (Leuit) yang ada di setiap desa. Selain beras meraka juga membuat kerajinan tangan seperti tas koja yang bahannya terbuat dari kulit kayu yang di anyam, gelang tangan, cincin khas Baduy. Disamping itu mereka membuat kainnya sendiri sebagai bahan pakaian dan ikat kepala dengan cara menenun.


Masyarakat Baduy sejak dahulu kala hingga saat ini secara turun temurun mempunyai kegiatan ekonomi yang berbeda dengan masyarakat Banten pada umumnya. Mereka menanam padi dengan cara berladang (ngahuma) bukan dengan menciptakan sawah-sawah. Baduy juga tidak memelihara hewan berkaki empat seperti Kerbau atau kambing, yang biasa menjadi hewan piaraan orang Banten.
Meskipun hutan sebenarnya merupakan sumber daya ekonomi, namun bagi masyarakat Baduy terlarang untuk memanfaatkan hutan untuk kepentingan ekonomi, seperti misalnya menebang kayu. Yang mereka manfaatkan dari hasil hutan hanyalah sebatas keperluan, misalnya untuk membuat rumah dan mengambil air nila. Lahan pertanian ini menjadi faktor produksi utama yang menopang kehidupan masyarakat Baduy. Orang Baduy tidak bisa menguasai atau memiliki tanah atau lahan ini, apalagi memindahtangankan atau menukarkannya dengan uang kertas.
Masyarakat Baduy Faktor Produksi yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh ‘negara.’ Anggota masyarakat Baduy hanya boleh mengolah dan memanfaatkan lahan tersebut untuk keperluan hidupnya sehari-hari. Dari lahan pertanian ini mereka menanam padi (huma) dan tanaman holtikultura lainnya seperti pisang dan sayur-sayuran. Padi Huma merupakan tanaman ekslusif Baduy. Hasil panen yang diperoleh sebagian mereka konsumsi, sebagian mereka simpan dalam lumbung padi. Lumbung Padi di Baduy berderet-deret. Semua lumbung itu penuh dengan padi. Padi yang mereka simpan dalam lumbung ini tidak akan pernah mereka jual. Mereka hanya boleh menjual hasil palawija seperti pisang ke pasar dan uangnya mereka belikan beras untuk dikonsumsi. Dengan cara demikian, masyarakat Baduy memiliki sediaan pangan yang selalu mencukupi semua anggota masyarakat Baduy.
Prinsip kearifan yang dipatuhi secara turun temurun oleh masyarakat Baduy membuat mereka tampil sebagai sebuah masyarakat yang mandiri, baik secara sosial maupun secara ekonomi. Karena itu, ketika badai krisis keuangan global melanda dunia, dan merontokkan pertahanan ekonomi kita di awal tahun milennium ini, suku Baduy terbebas dari kesulitan itu. Hal itu berkat kemandirian mereka yang diterapkan dalam prinsip hidup sehari-hari.
Orang Baduy tak saja mandiri dalam memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Mereka tak membeli beras, tapi menanam sendiri. Mereka tak membeli baju, tapi menenun kain sendiri. Kayu sebagai bahan pembuat rumah pun mereka tebang di hutan mereka, yang keutuhan dan kelestariannya tetap terjaga. “Dari 5.136,8 hektar kawasan hutan di Baduy, sekitar 3.000 hektar hutan dipertahankan untuk menjaga 120 titik mata air”, kata Jaro Dainah, kepala pemerintahan (jaro pamarentah) suku Baduy.
Orang tak bisa menuding begitu saja, bahwa suku Baduy Dalam terbelakang. Ternyata, mereka menguasai teknik pertanian dan bercocok tanam dengan baik, sembari tetap menjaga kelestarian lingkungan. “Mereka memang tak bersekolah. Belajar di ladang dan menimba kearifan hidup di alam terbuka adalah sekolah mereka”, tutur Boedihartono, antropolog dari Universitas Indonesia, yang pernah meneliti suku Baduy selama beberapa tahun. “Yang amat menggembirakan, tingkah laku yang meneladani moralitas utama, menjadi acuan utama bagi kepribadian dan perilaku orang Baduy dalam kehidupan mereka sehari-hari. Perkataan dan tindakan mereka pun polos, jujur tanpa basa-basi, bahkan dalam berdagang mereka tidak melakukan tawar-menawar. Karena itu, banyak merasa senang jika berurusan dengan orang Baduy karena mereka pantang merugikan orang lain”, ujarnya lagi.

Referensi:
http://freedombreconx.blogspot.co.id/2011/04/suku-baduy.html http://sehabudayadasar.blogspot.co.id/2013/03/suku-baduy.html https://id.wikipedia.org/wiki/Urang_Kanekes