Bagi kelangsungan hidup
manusia, kebudayaan merupakan sesuatu yang penting. Kebudayaan, yang merupakan
seperangkat gagasan, carahidup, dan berbagai kebiasaan, dikatakan tidak dapat
melaksanakan tugasnya apabila tidak berhasil menjaga kelangsungan hidup
manusia. Kebudayaan bukan sesatu yang diwariskan secara biologis, melainkan
hasil belajar, maka kelangsungan hidup manusia memerlukan proses pewarisan
budaya dari satu generasi ke generasi lainnya. Kebudayaan merupakan warisan leluhur yang harus
dilestarikan agar tidak tergerus oleh zaman yang semakin modern. Di Indonesia
terdiri dari banyak Pulau dan memiliki berbagai jenis kebudayaan dari Sabang
sampai Merauke. Namun saat ini sudah banyak kebudayaan yang sudah tidak
digunakan lagi oleh masyarakat terutama oleh generasi muda yang seharusnya
tetap menjunjung tinggi nilai budaya daerahnya.
Ditengah moderenisasi yang semakin meningkat,
masih ada daerah-daerah yang masih menjunjung tinggi nilai kebudayaannya. Salah
satunya yaitu suku Baduy Banten, sekelompok masyarakat
yang dikenal dengan orang “BADUY” tentu sudah tak asing lagi untuk didengar.
Suku yang mendiami daerah Banten Selatan, Jawa Barat, Indonesia. Masyarakat
Baduy terkenal akan keteguhannya
terhadap adat dari para leluhur mereka, yang apabila dilanggar mereka akan
mendapat hukuman yang sesuai dengan perbuatan yang mereka langgar. Mereka tidak
boleh mempergunakan peralatan atau sarana dari luar. Mereka hidup tanpa
menggunakan listrik, uang, dan mereka tidak mengenal sekolahan. Salah satu
contoh sarana yang mereka buat tanpa bantuan dari peralatan luar adalah
Jembatan Bambu. Jembatan ini dibuat tanpa menggunakan paku, untuk mengikat
batang bambu mereka menggunakan ijuk, dan untuk menopang pondasi jembatan
digunakan pohon-pohon besar yang tumbuh di tepi sungai. Kamar mandi yang
digunakan pun masih sangat tradisional yaitu di sungai, dari mandi sampai
mencuci pakaian pun dilakukan di sungai.
Kelompok Suku Baduy
Masyarakat
Kanekes secara umum terbagi menjadi tiga kelompok yaitu tangtu (Baduy Dalam), panamping (Baduy Luar), dan dangka
(Permana, 2001).
Kelompok tangtu
adalah kelompok yang dikenal sebagai Kanekes Dalam
(Baduy Dalam), yang paling ketat mengikuti adat, yaitu warga yang tinggal di
tiga kampung: Cibeo, Cikertawana, dan Cikeusik. Suku Baduy Dalam tinggal di
pedalaman hutan dan masih terisolir dan belum masuk kebudayaan luar. Kebudayaan
mereka masih asli, dan sulit sekali masyarakat lainnya yang ingin masuk apalagi
tinggal bersama suku Baduy Dalam. Selain itu tidak bisa sembarangan orang masuk
ke wilayah suku Baduy Dalam. Untuk mencapai wilayah Baduy dalam harus
diperlukan penunjuk jalan dan ijin dari pimpinan adatnya serta harus mematuhi
ketentuan yang sangat berat seperti di larang membawa kamera. Jarak yang harus
ditempuh untuk menuju Baduy Dalam pun cukup jauh dan hanya bisa dilalui dengan
berjalan kaki menelusuri hutan dan sungai. Orang Baduy Dalam terkenal teguh
dalam tradisinya. Mereka selalu berpakaian warna putih dengan kain ikat kepala
serta golok. Semua perlengkapan ini mereka buat sendiri dengan tangan. Pakaian
mereka tidak berkerah dan berkancing, mereka juga tidak beralas kaki. Mereka
pergi kemana-mana hanya berjalan kaki tanpa alas dan tidak pernah membawa uang,
jadi mereka tidak pernah menggunakan kendaraan. Masyarakat luar sulit sekali
masuk wilayah Baduy dalam apa lagi mengambil fotonya. Ada semacam ketentuan
tidak tertulis bahwa ras keturunan Mongoloid, Negroid dan Kaukasoid tidak boleh
masuk ke wilayah Baduy Dalam. Jika semua ketentuan adat ini di langgar maka
akan kena getahnya yang disebut kuwalat atau pamali adalah suku
Baduy sendiri. Kepercayaan mereka adalah Sunda Wiwitan, mereka tidak
mengenal sekolah, huruf yang mereka kenal adalah Aksara Hanacara dan
bahasanya Sunda.
Suku Baduy Luar
, yang mengunjungi masih bisa menggunakan alat komunikasi seperti Handphone. Kanekes
Luar merupakan orang-orang yang telah keluar dari adat dan wilayah Kanekes
Dalam. Ada beberapa hal yang menyebabkan dikeluarkannya warga Kanekes Dalam ke
Kanekes Luar. Baduy luar atau biasanya mereka menyebutnya Urang Panamping.
Cirinya, selalu berpakaian hitam dengan ikat kepala warna hitam bermotif biru.
Sedangkan orang Baduy dalam memiliki pakaian khas berwarna putih dengan celana
hitam serta ikat kepala berwarna putih. Sedangkan wanita baik di Baduy dalam
maupun luar memiliki ciri pakaian yang hampir sama berupa kebaya 'karempong'.
Apabila Kanekes
Dalam dan Kanekes Luar tinggal di wilayah Kanekes, maka "Kanekes
Dangka" tinggal di luar wilayah Kanekes, dan pada saat ini tinggal 2
kampung yang tersisa, yaitu Padawaras (Cibengkung) dan Sirahdayeuh (Cihandam).
Kampung Dangka tersebut berfungsi sebagai semacam buffer zone atas pengaruh
dari luar (Permana, 2001).
Mata
Pencaharian Suku Baduy
Mata
pencaharian utama masyarakat Kanekes adalah bertani padi huma
dan juga mendapatkan penghasilan tambahan dari menjual buah-buahan yang mereka
dapatkan di hutan seperti durian dan asam keranji, serta madu hutan. Hasil
pertanian mereka berupa beras bisanya mereka simpan di lumbung padinya (Leuit)
yang ada di setiap desa. Selain beras meraka juga membuat kerajinan tangan
seperti tas koja yang bahannya terbuat dari kulit kayu yang di anyam, gelang
tangan, cincin khas Baduy. Disamping itu mereka membuat kainnya sendiri sebagai
bahan pakaian dan ikat kepala dengan cara menenun.
Masyarakat Baduy
sejak dahulu kala hingga saat ini secara turun temurun mempunyai kegiatan
ekonomi yang berbeda dengan masyarakat Banten pada umumnya. Mereka menanam padi dengan cara berladang
(ngahuma) bukan dengan menciptakan sawah-sawah. Baduy juga tidak
memelihara hewan berkaki empat seperti Kerbau atau kambing, yang biasa menjadi
hewan piaraan orang Banten.
Meskipun hutan
sebenarnya merupakan sumber daya ekonomi, namun bagi masyarakat Baduy terlarang
untuk memanfaatkan hutan untuk kepentingan ekonomi, seperti misalnya menebang
kayu. Yang mereka manfaatkan dari hasil hutan hanyalah sebatas keperluan,
misalnya untuk membuat rumah dan mengambil air nila. Lahan pertanian ini
menjadi faktor produksi utama yang menopang kehidupan masyarakat Baduy. Orang Baduy
tidak bisa menguasai atau memiliki tanah atau lahan ini, apalagi
memindahtangankan atau menukarkannya dengan uang kertas.
Masyarakat Baduy
Faktor Produksi yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh ‘negara.’
Anggota masyarakat Baduy hanya boleh mengolah dan memanfaatkan lahan tersebut
untuk keperluan hidupnya sehari-hari. Dari lahan pertanian ini mereka menanam
padi (huma) dan tanaman holtikultura lainnya seperti pisang dan sayur-sayuran.
Padi Huma merupakan tanaman ekslusif Baduy. Hasil panen yang diperoleh sebagian
mereka konsumsi, sebagian mereka simpan dalam lumbung padi. Lumbung Padi di
Baduy berderet-deret. Semua lumbung itu penuh dengan padi. Padi yang mereka
simpan dalam lumbung ini tidak akan pernah mereka jual. Mereka hanya boleh
menjual hasil palawija seperti pisang ke pasar dan uangnya mereka belikan beras
untuk dikonsumsi. Dengan cara demikian, masyarakat Baduy memiliki sediaan
pangan yang selalu mencukupi semua anggota masyarakat Baduy.
Prinsip kearifan yang dipatuhi
secara turun temurun oleh masyarakat Baduy membuat mereka tampil sebagai sebuah
masyarakat yang mandiri, baik secara sosial maupun secara ekonomi. Karena itu,
ketika badai krisis keuangan global melanda dunia, dan merontokkan pertahanan
ekonomi kita di awal tahun milennium ini, suku Baduy terbebas dari kesulitan
itu. Hal itu berkat kemandirian mereka yang diterapkan dalam prinsip hidup
sehari-hari.
Orang Baduy tak saja mandiri dalam
memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Mereka tak membeli beras, tapi
menanam sendiri. Mereka tak membeli baju, tapi menenun kain sendiri. Kayu
sebagai bahan pembuat rumah pun mereka tebang di hutan mereka, yang keutuhan
dan kelestariannya tetap terjaga. “Dari 5.136,8 hektar kawasan hutan di Baduy,
sekitar 3.000 hektar hutan dipertahankan untuk menjaga 120 titik mata air”,
kata Jaro Dainah, kepala pemerintahan (jaro pamarentah) suku Baduy.
Orang tak bisa menuding begitu saja,
bahwa suku Baduy Dalam terbelakang. Ternyata, mereka menguasai teknik pertanian
dan bercocok tanam dengan baik, sembari tetap menjaga kelestarian lingkungan.
“Mereka memang tak bersekolah. Belajar di ladang dan menimba kearifan hidup di
alam terbuka adalah sekolah mereka”, tutur Boedihartono, antropolog dari
Universitas Indonesia, yang pernah meneliti suku Baduy selama beberapa tahun.
“Yang amat menggembirakan, tingkah laku yang meneladani moralitas utama,
menjadi acuan utama bagi kepribadian dan perilaku orang Baduy dalam kehidupan
mereka sehari-hari. Perkataan dan tindakan mereka pun polos, jujur tanpa
basa-basi, bahkan dalam berdagang mereka tidak melakukan tawar-menawar. Karena
itu, banyak merasa senang jika berurusan dengan orang Baduy karena mereka
pantang merugikan orang lain”, ujarnya lagi.
Referensi:
http://freedombreconx.blogspot.co.id/2011/04/suku-baduy.html
http://sehabudayadasar.blogspot.co.id/2013/03/suku-baduy.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Urang_Kanekes
